3,59 Persen Balita di Bulukumba Alami Stunting, 2020 RSUD dan Puskesmas Diminta Fokus Pencegahan

 

SinyalTajam.com, Bulukumba – Merujuk data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulukumba, tercatat jumlah balita yang mengalami stunting cukup tinggi. Dari 25.350 jiwa jumlah balita yang tercatat per Oktober 2019, sebanyak 911 balita atau 3,59 persen dari jumlah balita mengalami stunting. Kondisi ini kemudian memaksa Dinkes setempat melakukan berbagai upaya untuk mencegahnya.

Atas kondisi tersebut Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan Bulukumba menggelar Workshop Konvergensi Percepatan Pencegahan dan Penanggulangan Stunting, dengan mengundang berbagai stakeholder terkait.

Kadis Kesehatan, dr. Wahyuni mengatakan, kegiatan workshop yanh dilaksanakan tersebut diharapkan dapat melahirkan penyamaan perspektif dalam mengintervensi jumlah stunting yang ada di Kabupaten Bulukumba

“Melalui workshop diharapkan dapat memberikan kesepakatan acuan strategi penanganan stunting di Kabupaten Bulukumba. Dibutuhkan komitmen seluruh instansi terkait untuk menjadikan stunting sebagai skala prioritas,” ujar dr. Wahyuni, usai menggelar workshop, Minggu (15/12/2019).

Dia menjelaskan, stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya atau mengalami hambatan dalam pertumbuhan tubuhnya, sehingga gagal memiliki tinggi yang ideal pada usianya.

Sedangkan Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto berharap, semua Kepala Puskesmas melakukan konsolidasi dan berkomitmen untuk menurunkan angka stunting, gizi buruk, kematian ibu dan anak di 2020. Termasuk rumah sakit juga bisa berkomitmen.

“Sedapat mungkin setiap Puskesmas melakukan pengecekan data jumlah stunting dan kasus lainnya di wilayahnya. Termasuk memperbaiki pelayanan kepada pasien. Namun tak kalah pentingnya tetap meningkatkan softskill, bersikap ramah dalam pelayanan,” ujar Wabup.

Tomy juga mendorong Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) untuk memprogramkan pengelolaan dana desa terkait stunting menjadi pekerjaan pemerintah desa. Artinya ada kegiatan riil yang bersentuhan langsung dalam penanganan stunting, bukan kegiatan studi banding yang ujung-ujungnya hanya habiskan anggaran melakukan perjalanan dinas. (asa)

JANGAN LEWATKAN