Cetak Generasi Muslim Tangguh, Samsuddin Dirikan Ponpes Cahaya Embun

SinyalTajam.com, Gowa — Pepohonan rimbun nan lebat mengelilingi lokasi salah satu pesantren yang berada di Dusun Jipang Desa Jipang, Kecamatan Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Ada keinginan suatu saat nanti akan tetdengar Syahdunya muraja’ah hafalan santri ditemani kicauan burung dan kesejukan udara pagi menghiasi Pondok Pesantren Cahaya Embun.

Berdiri di atas lahan seluas 14 are milik Samsuddin Dg. Emba, S.Ag meski belum memiliki bangunan permanen, namun Pondok Pesantren Cahaya Embun kini mulai memerima santri pada tahun ajaran baru 2020-2021.

Ponpes Cahaya Embun lahir dan didirikan seiring dengan makin kompleksnya problematika keummatan di negeri ini khususnya di Kabupaten Gowa. Ponpes Cahaya Embun segera hadir mewarnai dunia pendidikan Islam.

Sebagai pesantren yang berbasis edukasi religi dan sosial keummatan, berupaya untuk menjadi terdepan dan filter bagi santri dalam menghadapi hegemoni pendidikan sekuler, materialistik pada kerusakan aqidah, dekadensi akhlak, hingga minimnya para penyeru kebaikan (da’i).

“Ponpes Cahaya Embun bertekad lebih banyak berperan aktif dalam proses kaderisasi ummat tanpa meninggalkan peran penting lainnya, yakni sosial keummatan bagi santrinya,” papar Ustadz Samsuddin Dg. Emba, S.Ag
yang memang sudah lama bercita-cita membangun ponpes.

Alhamdulillah, dengan tekad yang kuat dan hanya semata-mata untuk menolong agama Allah, akhirnya pembangunan Ponpes Cahaya Embun terlaksana pada 30 Januari 2020 lalu.

Peletakan batu pertama dilakukan pejabat dari Kemenag Kabupaten Gowa, Ustadz H Jamarias S.Ag, MH bersama rombongan, dari Pemerintah Desa diwakili Kepala Dusun Jipang Ibu Kalasinah, serta dihadiri tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat.

Ketua Yayasan Ponpes Cahaya Embun, Syamsuddin Dg. Emba, tidak menyangka pembangunan ponpes ini mulai dilakukan diatas lahan seluas 14 are ini.

“Kami memiliki prinsip, ketika membangun Pondok ini dilandasi karena menolong agama Allah, pasti ditolong oleh Allah,” ucap Ustasz Dg. Emba, Ahad (8/2/2020).

Dia berpikir jika pembinaan ummat atau anak didik hanya dilakukan segelintir orang, maka suatu saat akan habis. Sehingga Dg. Emba memutuskan untuk balik kandang dan membuat regenerasi agar kaderisasi dan pendidikan anak dapat terus berjalan. Satu-satunya jalan, pihaknya berupaya merintis dibentuknya Pesantren di desa Jipang.

Sebab suami dari Dg. Bulan ini menyadari, untuk membentuk karakter anak agar mencintai agama Allah memang tidaklah mudah. Maka terpikirlah untuk membangun Pesantren dengan meminta masukan dan pendapat dari tokoh agama, tokoh masyarakat dan warga.

“Alhamdulillah mereka menyetujui rencana kami, dan memberikan berbagai masukan dalam rangka menyiapkan anak didik atau kaderisasi generasi Islam dimasa mendatang,” papar Dg. Emba yang juga tercatat sebagai pengajar di Ponpes.

Dia mengakui, untuk mendirikan Ponpes modal utamanya adalah semangat dan berlomba untuk terus menegakkan agama Islam. Namun tentunya keberadaan ponpes Cahaya Embun harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Uatadz Dg. Emba tidak menginginkan pondok pesantren ini bersifat eksklusif atau hanya mementingkan orang atau kelompok tertentu. Tapi nantinya harus ditanamkan kepada para asatidz dan santri bahwa semua orang sama dimata Allah.

Anak-anak didik akan disiapkan sebagai tahfidz sekaligus da’i. Karena dengan begitu mereka akan siap melakukan tugas-tugas dakwah dimanapun. Sikap tersebut harus ditanamkan kepada santri.

Dia juga menitip beberapa pesan kepada masyarakat dan calon santri yakni, Pertama, jadilah orang yang bermanfaat. Kedua, jadilah penolong agama Allah. Ketiga, harus bersungguh-sungguh. Keempat, harus yaqin, optimis dan tawakkal. Kelima, harus menjadi yang terbaik. (sit/asa)

JANGAN LEWATKAN