Aktivis Morowali Ini Ajak Masyarakat Dan Pekerja Bersama Sama Suarakan Tolak RUU Omnibus Law

MOROWALI,sinyaltajam.com – Irsyad Amir,salah satu aktivis di Morowali mengatakan Rancangan Undang – Undang (RUU) Omnibus Law sangat merugikan kepada masyarakat, termasuk para pekerja lepas yang ada di Morowali akan sangat dirugikan.

Pasalnya, Kabupaten Morowali dengan jumlah karyawan yang begitu besar akan berdampak negatif jika UU ini sahkan

Dalam rilis yang diterima redaksi sinyaltajam.com, Kamis (12/03), Irsyad mengatakan jika UU ini akan di sahkan sangat membahayakan dan mengkhawatirkan para pekerja di kawasan Shelmter terbesar di Asia Tenggara ini.

Investor mempekerjakan karyawan semau-maunya , apalagi di Kabupaten Morowali ini, investornya rata- rata dari negeri Cina tentunya akan menjadi lebih ketat lagi.

Jangan sampai akan terjadi perbudakan nantinya, jam kerja yang berlebihan dan ini juga akan membahayakan aspek kesehatan.

” RUU Omnibus law maksimalkan 4 jam sehari dan 18 jam seminggu, jelas lembur 18 jam adalah perbudakan,” ucap Irsyad Amir selaku aktivitas Morowali.

Dirinya menilai jika hal ini tersebut diakomodir, maka yang terjadi adalah suatu kemunduran di dunia tenaga kerja.

Selain itu, tidak dilibatkannya unsur pekerja dalam penyusunan Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja juga menurut saya tidak tepat.

“Omnibuslaw ini tidak melibatkan unsur pekerja, itu adalah konsep yang dibuat oleh penguasa dan pengusaha, karena itu mari kita tolak secara bersama sama,” tandasnya.

Melalui redaksi sinyaltajam.com, Irsyad sampaikan kepada semua masyarakat, utamanya Kaum Buruh di Kabupaten Morowali.

” Jangan asal kerja saja, kerja yang tidak memikirkan keseimbangan, Negeri kita sedang di landa masalah besar, karyawan harus sadar untuk bersama-sama untuk berjuang menyuarakan aspirasi RUU,” ucap Irsyad Amir.

Ia juga menyampaikan pesan kepada Pemerintah dan DPR RI dalam membahas RUU Omnibus Law tersebut mari kita dengarkan aspirasi masyakarat, tegasnya

( muhiddin)

JANGAN LEWATKAN