Suka Duka Jadi Perawat di Daerah Terpencil, Sering Nginap di Hutan Bersama Pasien Rujukan

LUTIM,sinyaltajam.com – Bertugas di Desa yang letaknya terbilang cukup jauh dari Pusat Kota menyimpan cerita dan pengalaman tersendiri bagi Hardian Waly S.Kep, NS, yang telah mengawali tugasnya sebagai perawat Desa di Pustu Mahalona Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur (Lutim) sejak September 2008.

Tugas mulia yang diemban sebagai perawat di desa yang letaknya di ujung wilayah Kabupaten Lutim itu, terdapat banyak suka serta duka mewarnai selaku para medis, mulai dari sulitnya trasnportasi sampai ketersediaan obat yang masih belum memadai.

Ada cerita menari bagi Hardian yang saat ini menjabat Kepala Puskesmas Mahalona. Sesuatu yang susah terlupakan dan akan terus membekas diingatannya ketika harus membantu menyelamatkan nyawa warga yang harus di rujuk ke RSUD I Lagaligo Lutim.

“Kami harus berupaya dan saling bahu membahu bersama masyarakat ketika harus merujuk warga ke rumah sakit di Kabupaten. Sepanjang jalan kami di kawal warga agar bisa melewati medan jalan yang susah dilalui kendaraan. Itu karena jalannya berlumpur dan berbatu-batu,” ujarnya kepada sinyaltajam.com mengawali kisahnya.

Dalam kondisi seperti itu, dia tersadar begitu besar harapan dan keinginan masyarakat untuk menyelamatkan jiwa sesama yang menderita sakit. Bukan apa-apa, jalan yang mesti ditempuh selama 2 jam dengan struktur tanah liat dan licin ketika hujan, warga tetap mengikuti mobil truk yang membawa pasien hingga jalan provinsi.

“Puluhan warga harus mengawal mobil truk pengangkut pasien. Itu dilakukan untuk berjaga-jaga dan siap siaga mendorong mobil jika mogok atau tidak bisa berherak karena medan jalan yang memang susah dilalui kendaraan baik roda dua maupun empat,” beber Hardian.

Bahkan jika mobil sudah tidak bisa lagi bergerak, pihaknya bersama warga dan pasien terpaksa bermalam di hutan yang dilalui. Pasalnya akses jalan yang dilalui puluhan kilo meter dengan kondisi licin dan banyak batu cadas.

Tapi Alhamdulillah, dalam lima tahun terakhir ini secara perlahan namun pasti sudah ada perkembangan kemajuan khusus trasnportasi, meskipun masih ada yang perlu dibenahi. Saat itu sekitar tahun 2009 masyarakat yang berobat hanya dilayanai lewat Puskesmas Pembantu (Pustu). Baru beberapa tahun belakangan menjadi Puskesmas.

“Ingatan yang tak pernah hilang dan membekas ketika merujuk pasien ke RSUD. Pasien yang ada di mobil truk harua diganjal kayu kiri dan kanan. Sedangkan lantai mobil harus ditaburi gabah kering dan dialasi kain atau plastik. Itupun kami terkadang harus nginap di hutan jika hari sudah gelap,” bebernya.

Saat ini, akses jalan sudah mulai membaik dan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke Puskesmas jika sakit terus membaik dan meningkat dalam beberapa tahum terakhir. Apalagi di tunjang dengan keberadaan 8 Pustu yang tersebar disejumlah titik.

Namun begitu, Hardian yang menjabat Kepala PKM sejak September 2017 dan sudah dua kali Puskesmas yang dipimpinnya lulus Akreditasi, sangat membutuhkan Laboratorium bersama peralatannya. Keberadaan Lab sangat dibutuhkan guna untuk pemeriksaan darah dan urine serta butuh tenaga laboraturium.

(tim)

JANGAN LEWATKAN