Berniat Tinjau Proyek, Justru Dilapor ke Panwaslu, La Besse Sebut Ada Pihak Sengaja Mempolitisasi

LUTIM, SINYALTAJAM.COM – Memasuki akhir tahun anggaran 2020, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu Timur, La Besse, mengagendakan peninjau sejumlah kegiatan proyek pembangunan gedung sekolah di lingkup Dinas Pendidikan khususnya di Kecamatan Tomoni. Ini dilakukan guna memastikan kalau proyek tersebut berjalan dengan baik.

Hanya saja, ketika upaya itu dilakukan ternyata ada pihak yang berupaya mempolitisasi agenda tersebut. Kadis disebut-sebut mengunjungi posko pemenangan Paslon Bupati nomor urut 1 Husler – Budiman yang kemudian dilaporkan ke Panwaslu Tomoni.

Ketika dikonfirmasi wartawan, Ketua Panwaslu Tomoni Angkat Respati, membenarkan adanya laporan tersebut yang dilakukan tim pemenangan paslon nomor urut 2 Ibas-Rio.

“Benar, kami memang telah menerima pengaduan dari tim Ibas-Rio. Kadis dilaporkan berkunjung ke posko pemenangan Paslon nomor urut 1,” jelas Respati.

Terkait laporan tersebut, Respati menyebutkan pihaknya saat ini sedang mendalami laporan tersebut dan tengah melakukan pemeriksaan saksi.

Sementara Kadis Pendidikan Lutim, La Besse secara tegas membantah tudingan tersebut. “Tidak mungkinlah kami mengunjungi posko pemenangan. Kami tahu aturan dan batasan selaku ASN yang dilarang keras terlibat dengan urusan politik. Kalau kami melakukan seperti yang dituduhkan, itu sama saja ‘bunuh diri’,” ungkap La Besse saat dikonfirmasi SinyalTajam.com, Sabtu (21/11/2020).

Dia menjelaskan, pihaknya saat itu melakukan pemantauan proyek di Kecamatan Tomoni dan lokasi pertama yang dikunjungi adalah proyek penataan halaman SDN Tuban. Kemudian lanjut ke SDN Kawarasan. Hanya saja, sebelum meninjau proyek, dirinya terlebih dulu shalat Dzhuhur di Masjid belakang Pasar Tomoni.

“Setelah shalat saya juga sempat singgah di rumah Ir. Rahman yang juga sedang mengelola proyek. Kebetulan rumahnya tidak jauh dari masjid dan kebetulan juga tak jauh dilokasi tersebut ada posko pemenangan,” bebernya.

Mungkin saja, lanjut dia, ada pihak yang menyangka kalau dirinya berkunjung ke posko pemenangan. Sehingga menjadi bahan untuk melaporkan dirinya ke Panwaslu.

“Tapi sudah lah, itu hak setiap orang untuk melapor. Tapi kami juga punya hak membela diri terhadap tuduhan yang tidak benar,” tegas dia.

Dia melanjutkan, saat itu dirinya juga menelpon Kepala SDN Kawarasan, tapi ternyata sedang berada di sekolah yang tak jauh dari kediaman Ir. Rahman. “Itu kami lakukan hanya sebatas untuk mengtahui progres kegiatan proyek yang dikelola Kepala SDN Kawarasan,” ujarnya lagi.

Apalagi, lanjut La Besse, jadwal penyelesaian proyek sudah sangat mepet sehingga perlu secara terus menerus dilakukan pemantauan dan pengawasan agar pekerjaan dapat dilaksanakan tepat waktu.

“Sebagai warga negara kami patuh terhadap ketentuan dan peraturan yang berlaku, termasuk memberikan hak suara. Tapi bukan berarti kami ikut berpolitik yang nota bene punya konsekwensi hukum yang berat. Kalaupun ada posko disekitar rumah yang kami kunjungi, itu kebetulan saja. Tapi yang pasti kami tidak punya urusan di posko itu,” tandas La Besse. (mr/st/*)

JANGAN LEWATKAN