Polres Jeneponto Gelar Konpers Kasus Dugaan Ijazah Palsu, Polisi Sudah Selidiki Sejak Tahun 2015

Jeneponto, Sinyaltajam.com – Polres Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, menggelar konferensi pers terkait dugaan ijazah palsu Kades Pappaluang, Kecamatan Bangkala Barat, Kamis (6/1/2022).

Kasat Reskrim Polres Jeneponto AKP Hambali mengatakan kasus dugaan ijazah palsu ini sudah diselidiki sejak tahun 2015 silam atas laporan LSM Gempar.

“Berdasarkan surat perintah penyelidikan tertanggal pada 23 Desember 2015. Kemudian pada tanggal 31 Januari 2019 kita melakukan surat perintah penyelidikan lanjutan terkait dengan laporan pengaduan ini,” ujar AKP Hambali.

Dari hasil penyelidikan, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terkait laporan tersebut. Pada tanggal 27 Oktober tahun 2021, proses penyelidikan kembali dilakukan.

Dia mengatakan di Bulan Desember 2021, MS dilantik menjadi kepala desa terpilih, oleh Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar.

Sehari usai dilantik, MS diperiksa oleh polisi. Tak butuh waktu lama, hari itu juga MS ditetapkan sebagai tersangka.

“Jadi yang kita jadikan terduga tersangka dalam hal ini adalah Kepala Desa Pappaluang sebagai Kepala Desa terpilih. Jadi kita tetapkan kepala desa terpilih tepatnya pada tanggal 31 Desember 2021,” jelasnya.

Setelah dijadikan tersangka, MS kemudian menjalani masa penahanan di sel Polres Jeneponto.

“Setelah kita tetapkan sebagai tersangka penahanan dilakukan di rumah tahanan Polres Jeneponto,” ungkapnya.

Hambali menceritakan dokumen yang diduga dipalsukan oleh MS adalah ijazah Sekolah Dasar (SD).

“Terkait dengan penggunaan dokumen adalah termasuk ijazah itu salah satunya dan lain-lainnya itu tidak bisa kita jelaskan karena itu masuk dalam materi penyidik,” terangnya.

Namun menyebut Ijazah SD itu sebenarnya milik Muhammad Sayid. Namun, polisi tidak menyebut Sayid itu siapa.

“Kalau ijazah yang tertera disitu atas nama Muhammad Sayid. Kita belum bisa menjelaskan dalam hal ini karena itu masuk dalam materi kami,” pintanya.

Dia bilang, Ijazah tersebut digunakan MS sebagai salah satu persyaratan pendaftaran calon kepala desa. Ironisnya, ijazah itu sudah dipakai pada periode pertama tahun 2015 hingga periode kedua tahun 2021.

“Tersangka menggunakan dokumen palsu terkait dengan pencalonan Kepala Desa Pappaluang periode pertama dan kedua. Periode pertama itu 2015 kemudian periode kedua 2021,” pungkasnya. (*)

Laporan: Ridwan Tompo

JANGAN LEWATKAN