Berita Ketua IKAT Bontang Versus Sejumlah Wartawan Asal Toraja Jadi Polemik

Drs. Rony Rumengan, yang juga Ketua Yayasan Peduli Tondok Toraya. (dok.nato)

SAMARINDA. SINYALTAJAM. COM – Pemberitaan seputar perilaku Ketua IKAT Bontang Simon Matira terhadap sejumlah wartawan asal Toraja yang melakukan tour sepekan ke Kalimantan Timur beberapa waktu lalu, mengundang sorotan berbagai pihak khususnya dari sesepuh media dan jurnalis yang ada. Pasalnya, ada kejanggalan etika dalam mekanisme pemuatan berita dimana sebuah berita tayang di satu media tapi kemudian diklarifikasi di media yang lain.

Sama halnya hak jawab atau hak koreksi, seyogyanya dimuat di media yang sama. “Media yang mengangkat berita itu juga harus memberi ruang hak jawab kepada pihak yang merasa dirugikan dari pemberitaan itu, etikanya begitu. Silahkan menyampaikan rilis hak jawabnya di media yang sama. Jangan juga rilisnya belum disampaikan lalu menganggap media itu menolak. Itu namanya apriori, salah,” jelas Drs. Rony Rumengan, jurnalis senior dan sesepuh media.

Apalagi, menurut letting Andy F Noya di Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta tahun 1982 ini, dirinya mendengar Ketua IKAT Bontang itu belum pernah menelepon langsung wartawan bersangkutan setelah berita itu tayang. “Saya dengar juga katanya Ketua IKATnya itu tidak pernah menghubungi wartawannya setelah berita naik, kok klarifikasinya ujug-ujug muncul di media lain siapa yang salah ayo,” beber Rony.

Hal ini dibenarkan Salmon. “Saya kok tidak dihubungi yang bersangkutan kalau misalnya keberatan atau mau klarifikasi. Kalau dia telepon, saya ladeni tapi ini kan tidak. Malah yang dihubungi wartawan dan media lain,” ujar Salmon.

Diketahui, perseteruan antara Ketua IKAT Bontang Simon Matira dan crew jurnalis asal Toraja yang sedang tour ke Kaltim beberapa waktu lalu, dipicu oleh sambutan atau pelayanan yang diberikan pihak IKAT Bontang lewat ketuanya terkait akomodasi. Simon terkesan plin-plan dalam menyediakan akomodasi. Awalnya ia menyatakan siap, kemudian berubah menjadi tidak siap dan meminta crew jurnalis secara mandiri menyelesaikan akomodasinya. Ini sesuai penuturan Frederik Sampebua, koordinator tour crew jurnalis asal Toraja.

Dicurigai Orang PMTI

Ada yang menarik selama kunjungan crew jurnalis asal Toraja ke Kaltim. Pihak IKAT Bontang menaruh curiga dengan menganggap crew jurnalis beranggotakan 4 orang, masing-masing Frederik Sampebua, Oki Salmon, Yonatan Tommy dan Edison Tarangso, adalah orang-orang yang diutus PMTI (Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia). Informasi ini terkuak setelah crew jurnalis Toraja berada di Sangatta, Kutai Timur.

Crew Jurnalis Toraja dijamu makan siang Ketua dan Bendahara IKAT Kutai Timur, Piter Buyang dan Sesthy Bumbungan, di salah satu restaurant di Sangatta, sesaat setelah crew jurnalis tiba dari Bontang. (dok.sinta)

“Nasanga komi taunna PMTI rampo. Ada kecurigaan mereka kalian orang-orang yang diutus PMTI dari pusat. Makanya waktu kalian dalam perjalanan menuju ke sini ke Sangatta mereka menelepon mengatakan sepertinya mereka itu (red, crew jurnalis) orang-orangnya PMTI,” ujar Piter Buyang, Ketua IKAT Kutai Timur, di Tongkonan Toraja di Sangatta, saat tour yang lalu.

Tampak Ketua IKAT Kaltim, DR. Yusuf T. Silambi, MBA, sedang memberi penjelasan dan pernyataan terkait dualisme IKAT Kaltim, di Alang Tongkonan Toraja di Sangatta. Di samping kanan Yusuf Silambi terlihat duduk mendampingi Thomas Pali’. Thomas paling setia menemani crew jurnalis Toraja selama di Sangatta, bahkan masih mengantar sampai Pelabuhan Samarinda menjelang keberangkatan crew jurnalis kembali menuju Pelabuhan Pare-Pare. (dok.sinta)

Dari cerita ini, crew jurnalis Toraja menduga sambutan dan penerimaan yang tidak menyenangkan dari pihak IKAT Bontang itu dilatarbelakangi adanya kecurigaan IKAT Bontang menganggap crew jurnalis orang-orang PMTI. Ini tentu kecurigaan dan ketakutan yang berlebihan yang di dalam ilmu jiwa disebut gangguan paranoid atau sebagai waham kejar atau delusi paranoid. (nato)