Laskap Bergejolak: Warga Tolak Tambang di Bulu Balang, Sumber Air Terancam Tercemar

baca berita lainnya www.sinyaltajam.com

LUTIM. SINYALTAJAM. COM – Gelombang penolakan terhadap raktivitas pertambangan kembali menggema di Kabupaten Luwu Timur. Kali ini, warga Desa Laskap, Kecamatan Malili, membentangkan spanduk berisi aspirasi penolakan terhadap rencana penambangan di Blok Bulu Balang. (29/8/2025).

Aksi ini merupakan puncak kekesalan warga yang khawatir sumber air bersih mereka akan tercemar dan mata pencaharian dari sektor perkebunan terancam hilang.

Blok Bulu Balang, yang oleh warga setempat disebut “Bulu Sawa,” merupakan kawasan perbukitan yang selama ini menjadi sumber kehidupan sebagian masyarakat Laskap. Di kawasan ini, terdapat mata air yang menjadi sumber utama air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, Selain itu, Bulu Balang juga merupakan lahan subur tempat warga menanam durian, alpukat, merica, dan berbagai komoditas perkebunan lainnya, Bahakan sebagian pemukiman warga terbilang dekat dari area rencana tambang.

Spanduk-spanduk yang dibentangkan warga bertuliskan kalimat-kalimat penolakan yang tegas, seperti “Kami Masyarakat Laskap Menolak Tambang di Bulu Sawa Harga Mati!” dan “Manusia Hidup Tanpa Tambang, Tapi Tidak Tanpa Air!”. Spanduk-spanduk ini terbentang sepanjang kurang lebih 500 meter dari kantor desa Laskap, sebagai simbol perlawanan terhadap ancaman kerusakan lingkungan dan hilangnya sumber kehidupan.

Rencana aktivitas tambang ini tentu saja menimbulkan keresahan di kalangan warga, yang merasa tidak pernah diajak berdialog dan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

Penolakan terhadap rencana aktivitas pertambangan ini, juga menunjukkan bahwa masyarakat Luwu Timur khususnya masyarakat Desa Laskap semakin sadar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan mempertahankan hak-hak mereka atas sumber daya alam.

Riska, warga Desa Laskap, yang dikonfirmasi oleh media ini, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk protes warga terhadap rencana penambangan di Bulu Sawa. “Warga sangat khawatir jika tambang beroperasi, sumber mata air akan tercemar dan kebun-kebun mereka akan rusak,” ujarnya.

Lebih lanjut, Riska mengungkapkan bahwa pemerintah desa sebenarnya telah berupaya memfasilitasi pertemuan antara warga dengan pihak-pihak terkait untuk membahas masalah ini. Namun, pertemuan tersebut terpaksa ditunda karena kepala desa mendadak harus berangkat ke Makassar untuk mengantar anaknya berobat.

“Rencananya hari ini kita adakan pertemuan, surat sudah disebar. Tapi karena berhubung pak desa langsung berangkat ke Makassar tadi bawa anaknya lagi berobat, jadi pertemuan ditunda,” jelasnya.

Menurut informasi yang beredar, Blok Bulu Balang seluas 1.665 hektar rencananya akan ditambang oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang bekerja sama dengan PT Sulsel Citra Indonesia (Perseroda) (SCI) dan PT Luwu Timur Gemilang (Perseroda) (LTG).

Aksi penolakan tambang di Laskap ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait untuk lebih memperhatikan aspirasi masyarakat dan mempertimbangkan dampak lingkungan sebelum memberikan izin pertambangan. Jangan sampai kepentingan ekonomi mengorbankan kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup.lap Masding

Tinggalkan Balasan