Nasib Malang Menimpa Karyawan Indomaret : Maafkan Aku Ibu Dan Ayahku

Sinyaltajam. com. Makassar, – Nasib malang di alami seorang wanita muda berumur 22 tahun setelah ditinggal pergi oleh lelaki tidak bertanggung jawab, dalam keadaan kondisi hamil hingga melahirkan anak, akhirnya terkuak.

Berawal cerita perkenalan pada pandangan pertama yang kemudian akrab lalu berlanjut menjadi pasanga sejoli, keduanya diketahui bernama Yunita bersama kekasihnya Muhammad Habibi (20). Dimana seiring waktu telah mencatat keduanya merupakan pernah bersama menjadi karyawan dan bekerja dilokasi yang sama pula, pada salah satu Toko Indomaret Kota Makassar, telah memulai kisahnya pada sekitar bulan Juni Tahun 2017 lalu.

Lelaki Muhammad Habibi dikabarkan hingga saat ini tidak diketahui lagi rimbanya oleh korban, membuat situasi yang tiba-tiba saja berubah seperti hari-hari sebelumnya dialami Yunita yang terjadi sejak pada tanggal 9 September Tahun 2019, Habibi saat itu mulai melakukan kontak komunikasi melalui jejaring media sosial diantaranya dalam pesan Massengger, BBM, WA, dan Instagram, untuk pertama kalinya mulai melancarkan rayuan mesra berujung petaka terhadap Yunita.

“Knpa belom tidur ki syg, wkwkwkw, knpa belom tdr ki syg”, Habibi menyapa Yunita melalui pesan massengger untuk pertama kalinya.

“Bgdng ceka.. Tungguin air”, jawab Yunita.

“Hahahaha, Mencuci kapang,?”, Habibi melanjutkan chatnya bersama Yunita

“Yaps btul skali”, Yunita kembali menjawab Habibi

“Hahahaha, Cium ma ple”, Habibi mulai melepaskan gombalannya kepada Yunita

“Ede de santai maki ceka dnia jhe ine”, Yunita menanggapi gombalan Habibi.

Dan terhitung mulai saat itulah komunikasi melalui chat terlebih pertemuan langsung karena ikatan kerja pada tempat yang sama, membuat keduanya semakin larut menjalin hubungan semakin mendlam. Seperti pada suatu hari tepatnya usai melakukan acara makan bersama dengan beteman-teman mereka lainnya yang juga sesama karyawan Toko Indomaret tepat pada malam pergantian tahun baru saat itu, Habibi ditemani seorang rekanya meminta untuk menginap di tempat kost Yunita.

“Waktu itu kami pulang bareng setelah menghabiskan waktu hingga subuh dini hari, sekitar pukul empat subuh, Habibi meminta untuk menginap di tempat kostku karena pagar tempat tinggalnya sudah terkunci, sehingga saya mengizinkan dan sayapun harus tidur dikamar teman yang berada disebelah ruangan kamarku”, tutur Yunita, dalam wawancara khusus Sinyaltajam.com, 25/5/2019.


Boleh dikata sejak saat itu menurut Yunita, Habibi terkesan sudah semakin berani dan tidak sungkan-sungkan lagi mendekatinya. Terbukti pada lain waktu, yakni di awal bulan Januari Tahun 2018, sahabat dekatnya tersebut kebetulan mengantarnya  pulang ketempat kostnya di Jalan Veteran Utara, dengan berboncengan motor dari tempatnya bekerja di Toko Indomaret sekitar pukul 1.00 wita dini hari, dan pada kesempatan itulah lelaki yang telah dianggapnya sebagai teman dekat, meminta untuk kembali menginap ditempat kamr kostnya dengan beberapa alasan, yang kemudian setelah Yunita menyetujuinya maka terjadilah hubungan layaknya suami istri untuk pertama kalinya.

“Habibi kembali meminta untuk menginap di tempat kostku dengan alasan bahwa dirinya mendapat shift pagi besok, selain itu lokasi rumahnya jauh dan sudah tertutup, bahkan jalanan cukup rawan, sehingga sayapun mengizinkannya untuk menginap dan malam itulah kami melakukan hubungan layaknya suami istri,”  papar Yunita.

Hari-hari selanjutnya karena keasikan terbawa arus mabuk asmara  keduanya kembali mengulangi bahkan secara berulang-ulang kali hubungan layaknya suami isteri terjadi pada tempat kost Yunita apabila Habibi menginap, dan hal ini berlangsung dalam tenggang waktu beberapa bulan. Dan Ketika tepat memasuki bulan September Tahun 2019, Yunita tidak menyadari dirinya sedang hamil.

“Sejak bulan September, Habibi sudah jarang menginap di tempat kostku, dan tanpa saya sadari setelah memasuki bulan Desember Tahun 2018, perut ini ternyata sudah empat bulan, saya kemudian memberitahu Habibi”, tandasnya.

Habibi kata Yunita menyarankannya saat itu untuk melakukan tespek kehamilan agar bisa mendapat kepastian bahwa memang bebar-benar telah hamil.

“Habibi yang menyadari saya benar-benar telah hamil, sempat memberi saran untuk segera menggugurkan kandunganku, namun karena janinku sudah jadi anak, dia kemudian menyarakan agar saya melahirkan saja anak tersebut dan berjanji akan mengambilnya jika kelak punya istri”, cetus Yunita.

Sontak Yunita mendengar ucapan seperti itu, spontan lalu menuntut pertanggung jawabannya Habibi, namun yang bersangkutan  mulai menghindar bahkan memblokir kontak telepon dan semua jaringan media sosial miliknya hingga sulit untuk dihubungi lagi.

Pada saat ditinggal pergi oleh Muhammad Habibi dalam kondisi hamil tersebut ternyata tidak dapat disembunyikan oleh Yunita karena secara fisik perutnya semakin hari semakin membesar, lalu kemudian kondisi ini sampai ketelinga salah seorang teman Yunita lainnya sebut saja bernama Mirna, yang setelah memberi saran untuk meminta pertanggung jawab Habibi juga kemudian langsung menawarkan bantuan kepadanya.Yang kebetulan Mirna memiliki jabatan kepala Toko Indomaret tempat Yunita pernah bertugas sebelum diroling ketempat lokasi Toko Indomaret lainnya,

Bantuan Mirna menurut Yunita berupa informasi jika ada salah satu kerabatnya yang merupakan pasangan suami istri namun belum memiliki anak, diketahui bernama Nuni dan Tiar yang kebetulan bekerja sebagai supir di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kartini Jalan R.A.Kartini No.1 Makassar dan berencana akan mengambil bayi tersebut jika telah lahir.

“Sebaiknya bayi tersebut diberikan kepada tante Nuni dan om Tiar untuk dijaga dan dirawat oleh keduanya, saya juga mendapat infirmasi jika Tiar bekerja sebagai supir Di rumah sakit bersalin Kartini”, terang Yunita mengutip kalimat Mirna.

Yunita pun saat itu menyetujui dimana tepatnya sekitar bulan Maret Tahun 2019, untuk pertama kalinya Yunita bertemu dengan pasangan suami istri tersebut melalui Mirna, dimana meminta agar Yunita segera melakukan USG di RSIA Kartini terlebih dahulu sekalian sebagai momen pertemuan perkenalan mereka.

Dalam pertemuan tersebut pasangan Nuni dan Tiar menurut Yunita tidak berbicara banyak menyangkut bayi tersebut nantinya, dimana masalah ini kebanyakan memang diatur oleh Mirna. Hanya saja menyangkut biaya USG di RSIA Kartini saat itu sempat disampaikan Nuni langsung kepadanya bahwa telah membayar biayanya sejumlah Rp.750.000.

Dan saat pada pertemuan itu telah disaksikan oleh beberapa orang seperti Yunita, Mirna, Tiar, Nuni dan seorang teman kost Yunita yang juga di ketahui bernama Marni.

Selanjutnya demikian pula pada pertemuan berikutnya atau setelah sebulan kemudian antara pasangan suami isteri Nuni dan Tiar dengan Yunita langsung, juga masih pada momen pemeriksaan USG kedua dan ditempat yang sama.

Pada kesempatan itu menurut Yunita dirinya mengiyakan penyampaian Nuni kepadanya, bahwa akan ada surat perjanjian yang dibuatnya dan harus ditanda tangani kelak.

Beberapa hari kemudian tepatnya pada tanggal 1 Mei Tahun 2019, sekitar pukul 14.00 wita, ketika itu Yunita tiba-tiba dilarikan kerumah sakit Bersalin Sitti Khadijah Makassar oleh Marni dengan harapan bisa mempergunakan fasilitas BPJS, karena kondisi perutnya yang sudah mulai terasa sangat sakit. Dimana pasangan suami isteri Nuni dan Tiar juga dikabari oleh Mirna tentang kondisi Yunita saat itu yang diperkirakan telah ingin segera melahirkan,  lalu kemudian pasangan ini segera menyusul kerumah sakit dan tiba setelah beberapa jam kemudian.

“Karena BPJS saya belum bisa diaktifkan, maka pihak RS Bersalin Sitti Khadijah saat itu menyampaikan tentang biaya persalinan saya, yang harus harus disiapkan yakni sekitar lima juta rupiah”, kata Yunita

Namun beban biaya Bersalin RS Sitti Khadijah tersebut disadari Yunita, ternyata tidak mampu di penuhi kedua pasangan suami istri Nuni dan Tiar yang rencananya akan mengambil bayinya untuk dirawat. Sehingga dengan sangat terpaksa Yunita kemudian harus dipindahkan ke RSIA Kartini pada waktu sekitar pukul 18.00 wita,
atas keinginan pasangan suami istri tersebut, padahal Yunita sudah dalam kondisi pembukaan lima saat itu.

“Hanya beberapa jam saya di RSIA Kartini tepatnya pada malam pukul 12.30 wita yang  telah memasuki tanggal 2 Mei Tahun 2019, akhirnya saya melahirkan anak berjenis kelamin laki-laki dengan berat 3 Kg”, jelas Yunita.

Yunita juga menambahkan bahwa biaya normal persalinanya di RSIA Kartini diketahuinya seharusnya adalah Rp.7.500.000 rupiah akan tetapi Tiar mendapat discount dari pihak rumah sakit namun dengan catatan dirinya sudah harus pulang keluar meninggalkan RSIA Kartini pada malam harinya yaitu pada tanggal 3 Mei Tahun 2019, sekitar pukul 22.00 wita sebab hanya bisa membayar dengan biaya Rp.2.500.000 rupiah,

“Pada saat saya mau keluar dari rumah sakit tante Nuni sempat meminjam uang saya sebanyak satu juta rupiah untuk membayar biaya rumah sakit tersebut”, beber Yunita.

Lanjut Yunita karena pada saat itu sudah larut malam, maka pihak rumah sakit memberi tenggang waktu hingga esok harinya, dimana kondisinya memang masih memprihatinkan pasca melahirkan yaitu dalam kondisi masih sangatlah lemah, selain itu ternyata salah seorang perawat juga mengetahui bahwa anaknya kelak akan diambil oleh pasangan Nuni dan Tiar.

“Perawat tersebut sempat bertanya kepada saya bahwa apa benar anak saya akan dirawat oleh tante Nuni dan om Tiar ?, sayapun menjawabnya dengan mengatakan iya”, ucap Yunita

Dan keesokan harinya tepatnya pada tanggal 4 Mei Tahun 2019, pukul 11.00 wita Yunita akhirnya memang harus keluar walaupun yang dirasakannya adalah kondisi fisiknya yang masih sangat lemah. Bersaman pada waktu itu Yunita juga harus berpisah dengan bayinya pada saat itu juga sebab harus dibawa pergi oleh pasangan Nuni dan Tiar menuju kerumah kerabat mereka dijalan Kandea Makassar, dibantu salah satu saudara perempuan Nuni yang juga merupakan orang tua dari Mirna dengan sebuah mobil berwarna hitam

Sementara Yunita tidak diperkenankan ikut turut serta bersama mereka walaupun sempat menawarkan Yunita tempat tinggal untuk sementara, dan Yunita pun hanya bisa pulang kembali ketempat kost ditemani oleh Marni sahabat Yunita itupun dengan hanya naik kendaraan motor.

“Nanti pada sekitar pukul 8.00 wita malamnya saya ditelepon oleh ibu Mirna untuk segera datang kejalan Kandea untuk mengambil nasi lalu dibawa ke tempat kos untuk makan, atau langsung makan ditempat itu”, lanjut Yunita.

Dan lalu seminggu kemudian tepatnya sekitar tanggal 8 Mei Tahun 2019, Mirna berserta suaminya yang diketahui bernama Alwi mendatangi Yunita di Toko Indomaret yang terletak dijalan Veteran Utara dengan membawa dua lembar kertas yang isinya sama untuk ditanda tangani Yunita.

Yunita pun menolak untuk menanda tangani kerta tersebut dengan alasan bunyi dari pada isinya adalah tertulis menyerahkan, dimana Yunita sadar bahwa isi surat itu berarti bayinya benar-benar akan diambil oleh pihak lain.

“Saya mendapat tekanan saat itu, bahkan saya disuruh kejalan Kandea pada jam dua malam menjelang subuh, dimana mereka ternyata sekeluarga telah berkumpul kemudian memaksa saya untuk harus menandatangani surat yang telah disodorkan”, cerita Yunita.

Sejumlah ancaman dan tekanan diduga telah  dialami Yunita saat menemui Nuni dan Tiar beserta keluarganya dijalan Kandea diantaranya adalah akan melaporkan Yunita kepolisian karena ingin mengambil anak bayi tersebut, terus akan diliput lalu dimasukkan disurat kabar, dan mereka juga akan melaporkan kepada Yunita kepada keluarganya karena hamil diluar nikah, tak hanya itu mereka juga mengancam akan melaporkan ke Managemen Indomaret agar Yunita bisa dipecat.

Yunita juga mengaku jika saat itu dirinya dimintai uang tebusan sebanyak 15 juta rupiah yang harus diberikan pada saat itu juga, disaksikan oleh temannya Marni, bila bahkan Yunita berkeinginan mengambil anak bayi tersebut, sehingga saat itu Yunita terpaksa menandatangani surat yang di berikan yang isinya telah menyerahkan bayi tersebut.

Saat Yunita tidak perduli dengan surat yang telah ditanda tanganinya bahkan menyatakan lebih ngotot lagi akan meminta bayinya segera dikembalikan, ternyata nilai uang tebusan yang sebelumnya telah didengarnya malah bertambah menjadi 50 juta rupiah.

“Saya menelepon tante Nuni dan mengatakan bisaka ambilki anakku kembali ? “kalo mauko ambilki anakmu siapkanko uang 50 juta””, Yunita mengutip ucapan yang didengarnya.

Belakangan uang tebusan yang diminta oleh pihak Nuni dan Tiar yang merupakan supir di RSIA Kartini menurut Yunita kini turun dengan jumlah 30 juta rupiah jika ingin mengambil kembali anak bayinya yang telah dilahirkannya, dimana kini anak bayi tersebut telah diberi nama oleh pasangan suami istri tersebut, yakni Abi Putra Tiar dengan usia 23 hari.

Yunita sendiri saat ini telah melakukan permintaan secara baik-baik namun tidak direspon secara positif dimana berharap buah hatinya bisa segera kembali tanpa dipersulit, dan apabila proses hukum adalah jawaban dari kasus ini maka dirinya akan segera menuntut pihak-pihak yang terlibat.

Dalam konfirmasi Sinyaltajam di RSIA Kartini Jalan Kartini No.1 Makassar pihak rumah sakit membenarkan Tiar (Bahtiar) bekerja sebagai supir ditempat itu.

“Oh iya benar pak Bahtiar bekerja sebagai supir disini, tetapi lagi keluar, ada pesan yang mungkin mau disampaikan pak ?”, jawab staf RSIA Kartini saat batarapos mempertanyakan keberadaan Tiar.

Dalam percakapan via telepon antara Nuni dan Yunita yang disaksikan batarapos.com Yunita ingin meminta anak bayi buah hatinya yang telah dilahirkannya namun Nuni meminta disiapkan uang senilai Rp.30.000.000 sebagai uang pengganti.

“Kalo kau bilang tebusan kayak tonga pencuri tidak ku sukaki itu bukan tebusan tapi ongkosku”,

“Datang maki kesini kerumahnya ibu Mirrna sekalian sediakanmi itu uangmu”, suara Nuni dalam percakapaan yang ditangkap Sinyaltajam .com. (Zul)

JANGAN LEWATKAN