Kadis P3AP2KB Luwu Utara Kunjungi IRT Korban Salah Tembak di Kalimantan Utara, Pastikan Pendampingan dan Pemulihan Korban

Baca lainya. www.sinyaltajam.com

LUTRA.SINYALTAJAM.COM-Seorang ibu rumah tangga (IRT) bernama Hasna, warga Desa Tarobok, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, yang menjadi korban penembakan salah sasaran oleh oknum anggota Polres Tarakan pada 27 September 2022 lalu, kembali menjalani perawatan di rumah sakit akibat kondisi kesehatannya yang belum pulih.

Pada Sabtu malam, 9 Mei 2026, Hasna dirawat inap di RSUD Andi Djemma Masamba setelah mengeluhkan nyeri pada bagian bekas operasi akibat luka tembak yang dialaminya hampir empat tahun lalu.

“Saya masih sering merasakan sakit di bagian bekas operasi tempat saya terkena tembakan waktu itu,” ungkap Hasna dengan suara lirih.

Tak hanya menanggung rasa sakit fisik, Hasna juga mengaku masih dibayangi trauma mendalam akibat insiden tersebut. Bahkan, ia kini harus menjalani pendampingan di poli kejiwaan karena rasa takut yang belum kunjung hilang.

“Sampai sekarang saya masih sering merasa gelisah dan ketakutan. Kadang saat sedang berbaring, tiba-tiba saya merasa ingin lari, tapi saya sendiri bingung harus lari ke mana,” tuturnya.

Menurut Hasna, sejak peristiwa penembakan salah sasaran itu, kondisi kesehatannya terus menurun. Ia mengaku kerap sakit-sakitan, sulit beraktivitas normal, dan berat badannya pun terus menurun.

Mendapat informasi mengenai kondisi Hasna melalui pesan WhatsApp, Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Luwu Utara, dr. Haslinda, langsung bergerak cepat.

Ia menginstruksikan Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) untuk melakukan penjangkauan dan kunjungan langsung ke rumah sakit guna memastikan kondisi korban, sekaligus melakukan asesmen menyeluruh.

“Begitu saya menerima informasi terkait kondisi Ibu Hasna, saya langsung meminta tim UPT PPA melakukan penjangkauan untuk memastikan kesehatan korban, mengecek identitas, kronologis kejadian, kondisi psikis, serta menyiapkan pendampingan apabila korban ingin menempuh langkah hukum lebih lanjut,” ujar dr. Haslinda, Senin (11/5/2026).

Peristiwa yang dialami Hasna terjadi saat aparat kepolisian di Tarakan melakukan upaya penangkapan terhadap seorang buronan. Saat itu, Hasna sedang beraktivitas di warung miliknya ketika tiba-tiba tembakan dilepaskan dan mengenai tubuhnya.

“Waktu itu polisi datang menggunakan mobil. Saat saya sedang melayani pengisian bensin di warung, tiba-tiba saya merasa seperti ada ledakan di dada. Saya langsung sesak dan berteriak minta tolong. Anak saya juga ikut histeris karena melihat saya terkena tembakan,” kenangnya.

Usai kejadian, Hasna sempat dirawat di rumah sakit di Tarakan selama dua pekan, sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit di Samarinda karena kondisi paru-paru kanannya mengalami gangguan serius.

Ia mengaku pernah dijanjikan bahwa seluruh biaya pengobatannya akan ditanggung hingga pulih. Namun, menurut Hasna, janji tersebut tidak sepenuhnya terealisasi.

Hingga kini, Hasna masih menanggung dampak besar, baik secara fisik, psikis, maupun ekonomi. Ia berharap ada perhatian serius, tanggung jawab, serta keadilan atas peristiwa yang telah mengubah hidupnya.

“Yang saya inginkan hanya keadilan dan tanggung jawab. Karena sampai hari ini, saya masih merasakan dampaknya,” tutup Hasna. Lap Zakaria