LUTIM. – Zhiezhie, seorang siswa Kelas 8 SMPN 1 Malili, telah menunjukkan bakat dan kerja keras bisa membawa nama daerah kabupaten Luwu Timur menjulang tinggi.
Sejak duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, ia telah menemukan kecintaannya pada lintasan merah yang ada di halaman sekolah. Bagi remaja ini, dunia atletik bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan sarana untuk membuktikan bahwa anak dari daerah juga mampu bersinar di kancah yang lebih luas.
Setiap hari mulai pukul 05.30 pagi, lapangan SMPN 1 Malili menjadi saksi atas tekunnya Zhiezhie berlatih. Baik sendirian maupun ditemani oleh peluit pelatih yang mengiringi setiap langkahnya.
Ia menjalani rutinitas latihan fisik, mengasah teknik start, hingga membangun mental juara tanpa pernah mengeluh.
“Kalau merasa capek, istrahat dan saya selalu ingat apa yang ingin dia capai perlu keseriusan dalam latihan,” ucapnya dengan senyum yang penuh semangat.
Perjuangannya mulai membuahkan hasil ketika mengikuti kejuaraan tingkat kabupaten. Zhiezhie berhasil mendominasi dua nomor cabang sekaligus: lari 100 meter dan lompat jauh.
Pencapaian itu membuat namanya mulai dikenal di lingkup atletik lokal, namun ia menyadari bahwa prestasi tersebut hanya titik awal menuju target yang lebih besar – meraih kemenangan di tingkat provinsi.
Baru-baru ini, Zhiezhie mendapatkan kesempatan untuk mewakili Kabupaten Luwu Timur di ajang Olimpiade Siswa Nasional (O2SN) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Meskipun harus bersaing dengan atlet dari kota-kota besar yang didukung fasilitas lengkap, ia mampu mengubah tekanan menjadi energi semangat.
Dengan mencatatkan waktu terbaik dalam lari dan jarak terjauh dalam lompatan, Zhiezhie berhasil meraih gelar Juara 1 Atletik dan secara otomatis mengamankan tiket untuk melanjutkan perjuangan di tingkat nasional.
Kabar kemenangan itu langsung menyebar dan disambut dengan emosi haru di rumahnya, serta disambut dengan tepuk tangan meriah di sekolahnya. Guru, teman sekelas, hingga warga masyarakat Malili merasakan kebanggaan yang sama atas prestasi yang diraihnya.
Medali emas yang terpampang di dadanya bukan hanya milik pribadi, melainkan menjadi kebanggaan bersama bagi seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama ini.
Kepala SMPN 1 Malili, Agustati, menyatakan bahwa prestasi Zhiezhie menjadi bukti bahwa semangat juang tidak mengenal lokasi atau kondisi. “Kami selalu percaya bahwa dengan kerja keras yang tak kenal lelah dan doa yang tulus, anak-anak dari Malili mampu bersaing dengan siapapun, di mana pun. Zhiezhie adalah contoh nyata bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi halangan untuk mengejar mimpi besar,” paparnya.
Bagi Zhiezhie sendiri, kemenangan di tingkat provinsi bukanlah akhir dari perjalanan. Ia melihatnya sebagai awal dari babak baru menuju impian yang lebih menggebu. Saat ini, ia fokus kembali pada latihan dengan intensitas lebih tinggi, dengan target yang jelas, mengharumkan nama Kabupaten Luwu Timur dan Provinsi Sulawesi Selatan di kancah nasional.
“Saya ingin membuktikan kepada semua orang bahwa anak dari Malili juga mampu berdiri dengan bangga di atas podium tertinggi,” ujarnya dengan tekad yang bulat.
Kini, nama Zhiezhie telah menjadi sumber kebanggaan tidak hanya bagi sekolahnya, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Malili. Perjalanan menuju ajang nasional sudah berada di depan mata, dan doa serta dukungan terus mengalir untuknya. Karena dari sebuah lapangan kecil di Malili, telah lahir seorang atlet muda yang siap berlari menuju masa depan yang lebih gemilang.
Di balik setiap langkah dan prestasi yang diraih Zhiezhie, tidak terlepas dari peran penting seorang pelatih yang telah menemani dan membimbingnya sejak awal, bahkan sebelum ia dikenal sebagai atlet berprestasi – yaitu Pak Bahar yang selalu setia mendampinginya dari nol hingga meraih gelar yang akan membawanya ke tingkat nasional. Lap Cundding.












