Vale  

Ketika Bekas Tambang Kembali Bernapas di Bumi Batara Guru

Baca lainya. www.sinyaltajam.com

LUTIM. SINYALTAJAM.COM– Alat berat berwarna kuning itu kini tak bergerak. Di antara rimbunnya pepohonan, ia seperti menjadi saksi bisu dari sebuah perubahan. Tak ada lagi debu yang beterbangan atau material yang diangkut. Yang terlihat justru rumput hijau, pepohonan yang tumbuh rapat, serta papan informasi yang mengenalkan satwa khas Sulawesi.

Pemandangan itu menghadirkan dua wajah Sorowako, Luwu Timur: pertambangan dan alam yang sedang dipulihkan.

Di kawasan Taman Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Sawerigading Wallacea,

Jejak aktivitas pertambangan memang belum sepenuhnya hilang. Namun, lahan yang pernah digunakan untuk kegiatan operasional perlahan diarahkan menjadi ruang hijau. Di sinilah reklamasi menemukan maknanya: bukan sekadar menutup bekas bukaan lahan dengan tanaman, tetapi mengembalikan fungsi ekologisnya secara bertahap.

PT Vale Indonesia Tbk, yang sebelumnya beroperasi dengan nama PT Inco, menjalankan reklamasi dan revegetasi secara intensif sejak sekitar 2005–2006. Prosesnya dimulai jauh sebelum bibit menyentuh tanah. Kondisi lahan, kualitas tanah, jenis vegetasi, air, hingga kesesuaian tanaman dengan karakter lokasi menjadi bagian yang diperhitungkan.

Team Leader Revegetation Nursery, Rehabilitation PT Vale, Harun Tandioga, menjelaskan proses tersebut saat insan pers mengikuti Upskilling & Site Visit Media pada 26–28 Juli 2026. Menurutnya, pemulihan dilakukan bertahap dan disesuaikan dengan kondisi setiap lokasi.

Dari nursery di Sorowako, hingga 700.000 bibit per tahun dapat disiapkan untuk kebutuhan revegetasi. Bibit dirawat sejak awal, mulai dari kelembapan media tanam, perkembangan akar, hingga pengendalian hama dan penyakit.

Ketika dibawa ke lapangan, pekerjaan belum selesai. Tanaman penutup tanah lebih dahulu dikembangkan untuk melindungi permukaan dan membantu mengurangi erosi. Setelah kondisi lahan lebih stabil, tanaman berkayu ditanam untuk membentuk tutupan vegetasi jangka panjang.

Di kawasan KEHATI Sawerigading Wallacea seluas sekitar 15 hektare,

Proses itu terlihat dalam lanskap hijau dengan komposisi tanaman yang beragam. Tercatat 17 spesies lokal dan 10 spesies eksotis untuk tanaman daur pendek; 48 spesies lokal dan tujuh eksotis untuk tanaman daur panjang; serta 15 jenis tanaman MPTS (Multi-Purpose Tree Species).

Papan informasi Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix) memperlihatkan bahwa pemulihan tidak berhenti pada vegetasi. Keanekaragaman hayati menjadi bagian dari cerita. Kawasan juga memiliki aturan untuk menjaga tanaman dan satwa, termasuk larangan merusak tanaman, memberi makan rusa sembarangan, memasuki greenhouse, memancing, dan membuang sampah.

Sementara itu, keberadaan Lamela Gravity Settler (LGS) dan fasilitas recycle pump menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan juga menyentuh persoalan air dan pengendalian aliran permukaan.

Pada akhirnya, reklamasi tidak cukup dinilai dari hijaunya sebuah lahan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah tanah kembali berfungsi, apakah tanaman mampu bertahan, dan apakah kehidupan lain mulai kembali?

Di Bumi Batara Guru, jejak nikel memang menjadi bagian dari sejarah. Tetapi dari lahan yang pernah terbuka, kini tumbuh cerita lain—tentang bagaimana sesuatu yang pernah diambil dari bumi perlahan diupayakan untuk dikembalikan menjadi ruang hijau dan kehidupan. Lap Tim

Tinggalkan Balasan